SEKELUMIT KISAH MENCARI CINTA - PUPUSLAH HARAPANKU DIKALA TAHU JAMILAH MENIKAH

Sabtu, 8 Februari 2020 M - 14 Jumadil Akhir 1441 H
Penulis: Fitra Yadi

Terseok tersandar di sumpik padi
Pada tahun 2003 program Didikan Subuh di Canduang terbilang aktif, ini mungkin karena semangat guru-guru ditambah lagi dukungan dari pemerintah, wali murid, dan tokoh-tokoh masyarakat.

Ketika itu aku ditunjuk sebagai ketua Didikan Subuh nagari Canduang Koto Laweh. Spirit haraki lii'la i kalimatillah yang ditularkan oleh guru-guru DDS tersebut sangat menggelora di jiwaku, ditambah lagi ada bunga-bunga indah berjambangan. Sebagai  seorang Mudo Matah tentu semangatku akan bertambah bila bertemu dengan sosok idaman hati. He ehe he he he

Subuh Ahad ini masjid Kuno Bingkudu dipenuhi ratusan orang murid-murid Didikan Subuh dari 13 Taman Pendidikan Alquran sekenagarian Canduang Koto Laweh. Sekarang adalah acara Didikan Subuh gabungan putaran ke-2 dipertengahan Agustus tahun 2004.

Kita baru siap menunaikan shalat Subuh berjamaah, masing-masing TPA duduk beregu berurutan sesuai dengan panduan panitia. Ustazd dan Ustadzah nampak sedang menyusun sekram pembatas ke bagian belakang, ada juga guru yang sedang mengabsen murid-muridnya, sedangkan di luar jendela nampak pula serombongan kafilah yang baru turun mobil berarak masuk ke tempat berwudhuk.

Aku menyalami Buya Maruzi yang tadi mengimami shalat Subuh. "Buya, awak DaFit dari Surau Baru Koto Tuo" "ya ustazd, banyak murid-murid ustazd datang ke sini?" "Ada sekitar 30 orang Buya, masih ada lagi yang akan menyusul di belakang" jawabku sambil berbincang-bincang dengan jama'ah lainnya.

Panitia acara sedang mengecek peserta Didikan Subuh utusan dari masing-masing TPA yang akan tampil sebentar lagi. sedangkan aku bersama pengurus mesjid duduk menghadap murid-murid seraya memperhatikan aktifitas masing-masingnya.

Semua hal mengenai Didikan Subuh begitu menarik bagiku sama menariknya seperti ustadzah yang duduk di sana dalam kerumunan murid-muridnya. Aku senang memperhatikannya, kala itu ia memakai Jilbab putih dan baju belang putih-coklat, longgar sampai menutupi kakinya. Cawat bajunya nampak agak lebih tinggi diatas perut tidak pas di garis pinggangnya. Ia  begitu aktif melayani murid-murid yang berebut bertanya tentang materi pelajaran kepadanya. Kemudian ia memanggil satu persatu murid supaya datang menghadap mengecek hafalan ayat-hadisnya.

"Ketua.. Bagaimana kalau kita mulai saja acara?" tanya seorang ustazd membuyarkan perhatianku. "Iya tidak apa-apa ustazd, walaupun tidak lengkap hadir namun kita mulai saja acaranya, kita tunggu sambil jalan saja" jawabku segera.

Setelah acara DDS selesai guru-guru beserta pengurus masjid berkumpul bersilaturrahmi beramah-tamah minum pagi menyantap sarapan yang disediakan tuan rumah. Aku perhatikan buku absen yang dioper guru-guru kita isi secara bergantian. Dalam hitunganku ustadzah tadi mengisi absen pada urutan yang ke tujuh. Setelah acara selesai, absen diserahkan kepadaku untuk disimpan dibawa pulang. Aku perhatikan nomor tujuh, tertera namanya "Jamilah" (sebut saja begitu) guru MDA di Mushalla Al-Mujahidin V Kampuang, aku begitu penasaran dengannya, bergumam "kapan lagi ya bisa bertemu dia".

Di acara DDS gabungan berikutnya aku bertemu lagi dengan Jamilah, ia sangat menarik hati dan disenangi murid-muridnya. Mungkin dia tahu perangaiku yang selalu memperhatikannya tapi entahlah. Kata ustazd Rudi ia adalah alumni Ponpes MMUS yang baru kuliah semester tiga di STAIN Syekh Djamil Jambek Bukittinggi.

Ketika acara Khatam Quran murid-murid MDTAnya, aku diundang pula oleh BK MDTA mewakili Lembaga Didikan Subuh. Ayah Imam kepala MDTA tersebut kepadaku menceritakan keadaan madrsahnya lengkap dengan profil guru-gurunya. Ustadzah Jamilah tersebut adalah Familinya juga, ia anak Yatim semata wayang yang sudah lama ditinggal mati sang ayah, sekarang ia tinggal bersama nenek dan ibunya.

Ustadzah Jamilah agak kalem orangnya, jikalau berkumpul dengan guru-guru ia pendiam tidak banyak bicara. Penampilannya nyunnah dengan jilbab lebar, baju longgar, kaus kaki panjang dan manset tangan yang indah, aku sungguh mengaguminya, aku tiba-tiba gugup setiap berpapasan dengan Jamilah, aku segan menatap wajah sang ustadzah hanya liat selintas lalu menundukkan mata.

Pada acara Khatam Qur'an itu aku sangat menikmati waktu, betah berlama-lama di sana memperhatikan Jamilah. Sejak pagi sampai malam. Setiap rangkaian acara aku ikuti secara seksama padahal para undangan sudah pulang tinggal panitia dan beberapa wali murid saja, he he he he he. Semangatku redup bak Petromak kehabisan angin, karena Jamilah sudah menghilang dari ruangan, oh ya wajarlah sudah pukul sembilan malam, akupun beranjak pulang.

Waktu-waktu berikutnya aku sering bertemu dia di acara ceramah agama perayaan Israk Mikraj, Maulid Nabi dan di majelis-majelis lainnya, aku begitu bahagia bila satu majelis dengannya, sejuk sekali dari ubun-ubun sampai ke dada seumpama berlindung di bawah pohon pisang ditengah teriknya mentari siang. he hehehehe he he.

Tahun 2007 ketika usiaku menginjak 27 tahun, dimana asmara sedang menggelora, rindu menggulung dalam dada, kebutuhan akan seorang pendamping hidup begitu sangat terasa, anganku melayang selalu terbayang sosok seseorang seperti Jamilah. Ingin aku mengutarakan perasaanku kepadanya, tapi takut tidak diterima.

Buku-buku Habiburrahman El Shirazy melalui karya sastranya sangat mempengaruhi jiwaku. Aku suka membaca novel-novelnya seperti; Ketika Cinta Berbuah Surga, Pudarnya Pesona Cleopatra, Ayat-Ayat Cinta, Di atas Sajadah Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan Dalam Mihrab Cinta. Buku-buku yang kemudian difilmkan itu membentuk persepsiku tentang cinta dan berumah-tangga.

Tahun 2010 aku belum juga siap untuk menikah, tunggu-menunggu mencari hari nan elok kutiko nan bayiak untuk bertabur rasa mengutarakan maksud hati kepada Jamilah. Tapi sayangnya aku terlambat, dari kawan-kawan kuliahnya dulu aku dapat kabar bahwa Jamilah sudah menikah.

Walau tidak terlalu sakit, namun aku tarumuak juga, berjalan menepi-nepi di pematang sawah. Ondeh mandeh aku teringat pantun anak dendang "hujan nan indak labek bana, taganang ayia di halaman, sakik nan indak sakik bana alah sansai badan di lapiak katiduran". Untuk penghibur hati aku coba pula berpantun riang " sarawa panjang dalam lamari basaku-saku muko balakang, kalau Allah ka mambari rasaki hari hujan batu es dibali urang" ha ha ha ha ha

Dari kejauhan terdengar bunyi Radio, suaranya menyeruak mengusik telinga menceritakan tentang seseorang yang ditinggal orang yang dicintainya, terdengar lagu dandut yang dinyanyikan Iis Dahlia "Pergi Tanpa Pesan". Kemanakah... Akan ku cari. Gelap terasa. dunia ini. Bagai tiada matahari, Kau pergi tanpa pesan. Ku nanti tiada datang, Di mana kau kini, Di mana kau kini, Aku tiada berdaya lagi. Aduh...! Aduh.! Aduh. duh. duh. Apakah kau tak sadar, Janji suci kau katakan. Di mana ku cari, Di mana ku cari. Aku tiada berdaya lagi. Aduh...! Aduh.! Aduh. duh. duh. Putuslah harapanku..., Letih rasa ku menunggu. Putuslah harapanku, Letih rasa ku menunggu. Ke mana ku akan pergi, Tempat bernaung diri. Berkorban apa saja, Demi untuk yang ku cinta. Siksa dan derita, Telah ku terima. Tapi aku tak bahagia, Aduh...! Aduh.! Aduh. duh. duh. Putuslah…

#6
Ditulis oleh: Fitra Yadi, S.PdI
di Sarilamak
Sabtu, 8 Februari 2020 H - 13 Jumadil Akhir 1441 H
Sumber: https://fitrayadi.gurusiana.id/article/2020/2/sekelumit-kisah-mencari-cinta-pupuslah-harapanku-dikala-tahu-jamilah-menikah-2306325

Posting Komentar

0 Komentar