BERAT DI PERASAAN, ANAK JALAN JINJIT, INI YANG KAMI LAKUKAN

Rabu, 5 Februari 2020 M - 10 Jumadil Akhir 1441 H
Penulis: Fitra Yadi

Halimah kakinya jinjit
Aku baru selesai mengerjakan shalat 'Ashar, kemudian segera keluar dari shaf mau menggantikan istriku Zurhuriati (35 tahun) menjaga anak-anak. Anak kami Abdul Halim (5 tahun) dan Nur Halimah (20 bulan) sedang bermain di ruang belakang dekat pintu masuk masjid.

"Sudah siap Bak, awak shalat dulu ya?" pinta istriku.
"Iya sudah Nda, shalatlah!" jawabku mempersilahkan.

Halim dan Halimah kejar-kejaran berebut mainan, aku asyik saja duduk memperhatikan mereka berlarian dari tiang belakang Masjid Nurul Islam Kampung Jao dekat Pasar Raya Inpres Blok III kota Padang.

Halimah kalau berjalan kakinya berjinjit, lari pun begitu juga ia suka jinjit, sejak pandai berjalan Halimah memang begitu. Dari bacaan-bacaan online yang aku pahami, hal itu bisa jadi ada hubungannya dengan pemakaian baby walker terlalu dini.

Jama'ah masjid yang lalu-lalang memperhatikan cara jalan Halimah dengan pandangan ganjil, ada juga yang berkomentar;
"waduh.. itu kaki anaknya kenapa? kok jalannya jinjit begitu, sayang anaknya cantik tapi kok jalannya jinjit nanti dikira orang cacat" kata seorang perempuan paroh baya dengan wajah prihatin sambil melipat telekungnya.

Ada lagi bapak-bapak memberi saran "Bawalah anaknya ke tempat urut, biar normal jalannya. Saya ada kenalan tukang urut dekat sini banyak orang datang berobat ke sana" katanya.
"Iya benar, bawahlah cepat berobat, bisa-bisa nanti sampai dewasa dia berjalan seperti itu terus" tambah yang lain.
Macam-macam komentar orang ketika itu yang membuat hatiku tidak nyaman.

Makin lama, makin ramai saja orang berdiri memperhatikannya, Halimah menjadi objek perhatian mereka yang mau keluar masjid baru selesai mengerjakan shalat Ashar. Ada yang menertawakannya dan ada juga yang mengajaknya berinteraksi supaya lebih jelas cara berjalannya.
"Kenapa ini pak?" tanya seorang jama'ah muda yang duduk jongkok di samping kananku.
"Mungkin karena pengaruh kereta bantu berjalan itu kali da, Baby Walker, mungkin ketika itu keretanya tinggi, kakinya belum sampai ke lantai, untuk mendorong tubuhnya ia mesti jinjit jadinya, mungkin karena kebiasaan itu kali hingga sampai sekarang ia selalu berjalan jinjit" terangku tenang.
"Tapi kakinya tidak sakit kan?" tanyanya lagi.
"Tidak da, kakinya tidak sakit, biasa saja".
"Bagus juga untuk atlet balet ya, tidak susah lagi belajar jinjit, he eh eh ehe" katanya melucu.

Mertua perempuanku Ibu Nurjasmi (60 tahun) berusaha memanggil Halimah dari samping Sekram paling belakang shaf perempuan, mungkin beliau tidak nyaman melihat cucunya diperhatikan begitu oleh banyak orang.

Akhirnya Halimah aku gendong pelan-pelan kami jalan ke pintu keluar di susul Halim dan neneknya. Ni Yosi mak Uwonya Halim sudah duluan keluar memasang sepatu.
"Mak Uwo... kurang nyaman rasanya mendengar komentar orang tentang kaki jinjit Halimah" curhatku kepada uni Yosi di teras masjid.
Uni Yosi ketawa-ketawa aja, beda dengan mertua perempuanku, beliau kurang senang cucunya dipandang aneh orang-orang di situ.
"seperti melihat barang aneh saja cucu awak di mata mereka, memangnya Halimah ini apa.." celetuknya sambil melap-lap mata kirinya dengan sapu tangan kemudian memasang lagi kacamatanya.

"Kenapa bak?" tanya istriku keluar masjid mengambil sepatunya.
"Risih rasanya Nda mendengar komentar orang-orang yang keluar dari masjid tadi tentang Halimah, ada yang menyarankan berurut, bawa berobat, menyuruh periksa, ada pula yang menertawakannya" jawabku getir. "Sama, Nda gitu juga. Ketika abak shalat tadi ada juga orang liat Nda seperti itu, tapi Nda cuek aja" kata istriku.

"Kita bikin konten yuk.. diupload ke youtube" usulku ke istri. "Boleh, bagus juga, he he he he he " jawabnya cengengesan.

Kemudian kami berbelanja di Pasar Baru Kampung Jao pasar Impres III kota Padang membeli mantel plastik satu Bal dan barang-barang lainnya untuk dijual kembali di Kedai kami di Sarilamak Limapuluh Kota.

Hari itu Rabu, 21 Agustus 2019 adalah jadwal cek mata mertuaku di Rumah Sakit Khusus Mata (RSKM) Padang Eye Center Jl. Ujung Belakang Olo, Kota Padang. Jadwal praktek dokter dimulai pukul 17.00 Wib. tadi pagi istriku sudah mengambil nomor antrian via Whatsapp, tinggal cek in saja bila telah sampai di RSKM.

Kita berangkat cepat dari rumah di Sarilamak, pukul 08.00 Wib. kami star mengendarai mobil rental All New Toyota Rush 2018. Menjelang ke RSKM waktu yang ada kita pakai dulu buat santai-santai singgah ke rumah keluarga, berbelanja, makan siang di Resto Ayam bakar 212 Jl. Sawahan Padang Timur, setelah itu baru ke Rumah Sakit Khusus Mata Padang Eye Center Belakang Olo.

Di RSKM begitu juga, Ketika berjalan Halimah menjadi perhatian pengunjung rumah sakit, namun kemudian Halimah aku pasangi sepatu. Biasanya kalau pakai sepatu Halimah jalannya menapak, tidak jinjit lagi.

Istri dan anak-anak aku bawa istirahat di Resto Ayam Joged di samping RSKM tersebut. Ibu mertua duduk di ruang tunggu Rumah Sakit didampingi Uni Yosi kakak Istriku.

Seniorku H. Yurismen pemilik Resto Ayam Joged ini rupanya sedang tidak berada di tempat, di sana hanya ada karyawan dan istrinya saja. Kalau beliau ada, kami biasanya mengobrol dan istirahat di sana. Sekarang kami hanya makan dan minum saja di sana menemani anak-anak main.

Di waktu kosong ini aku manfaatkan untuk browsing lagi membaca artikel-artikel tentang Balita jalan jinjit. Seperti yang diposting lifestyle.okezone.com disebutkan "Tidak sedikit dijumpai orang tua masih memakai baby walker, dengan tujuan membantu si kecil agar cepat jalan. Padahal penggunaannya saat ini TIDAK disarankan lagi. Pasalnya, baby walker terbukti tidak menolong anak lebih cepat berjalan. Justru penggunaannya berisiko menyebabkan kecelakaan, seperti; terjatuh, tersandung atau terguling. Bila ingin melatih si kecil berjalan, lebih baik dengan cara ditatih saja. Bisa dengan memegang bagian bawah ketiak atau dengan selendang yang diikatkan pada tubuh anak."

Tetapi bila ingin menggunakan baby walker, pastikan si kecil diatas usia 6 bulan. Karena anak sudah mulai bisa duduk tegak meski belum bisa berdiri sendiri. Pastikan juga anak mampu kuat berdiri, jika baby walker terlalu pendek justru akan membuat tungkai kaki cenderung bengkok atau membentuk huruf ‘O’. Sebaliknya, jika baby walker terlalu tinggi, otomatis anak akan jinjit untuk mendorong kakinya ke belakang agar maju ke depan."

"Hal inilah yang menyebabkan anak berjalan jinjit. Pasalnya, sewaktu dia belajar berjalan dengan baby walker yang dilatih adalah otot betis dan sebagian otot paha.Sehingga, otot-otot tersebutlah yang lebih dulu menjadi kuat. Tapi jangan khawatir dengan bertambahnya usia dan latihan berjalan maka otot lain akan ikut kuat. Selain itu jalan jinjit juga disebabkan karena kelainan tulang, keterlambatan perkembangan atau saraf pusat. Karena jalan jinjit dialami sudah sejak lahir - bukan karena setelah penggunaan baby walker -maka butuh perhatian khusus, bergantung pada kelainannya, di daerah seputar kaki atau berhubungan dengan saraf."

parenting.dream.co.id juga melansir tulisan yang berjudul "Balita Sering Jalan Jinjit, Pertanda Gangguan Keseimbangan" yang ditulis oleh Mutia Nugraheni yang diterbitkan pada tanggal 2 Oktober 2017 pukul: 10:04 "Seringkali kita melihat anak usia tiga tahun berjalan dengan cara berjinjit. Namun, apabila anak sudah melewati usia lima tahun dan masih berjalan jinjit, bisa jadi ada yang salah dalam sistem keseimbangannya. Berjalan jinjit tidak hanya merupakan tanda-tanda tumbuh kembang anak yang terlambat, namun juga pertanda dari lemahnya sistem keseimbangan (vestibular) yang mengatur kordinasi anak dalam bergerak."

"Saat sistem keseimbangan anak tidak berjalan optimal, akan terlihat gejala seperti berjalan jinjit dan ketidakmampuan untuk mengikuti aktivitas di kelas. Gejala ini menandakan bahwa otak anak anda tidak mampu menyerap pelajaran dengan baik. Gejala ini juga seringkali terdapat di penderita autisme, ADHD, diseleksia, asperger, dan dysgraphia. Dr. Stephen M. Edelson, Ph.D, pakar tumbuh kembang anak mengungkap, bahwa jalan jinjit berpengaruh secara langsung atapun tidak langsung terhadap masalah visual-vestibular."

"Jadi, bagaimana kita tahu bahwa perilaku jalan jinjit anak kita merupakan gejala dari lemahnya sistem vestibular? Coba lihat ciri-ciri berikut ini:
- Memiliki masalah penglihatan dan sudah memakai kacamata dari usia 3 tahun.
- Seringkali tidak mendengar dan kurangnya konsentrasi terhadap apa yang disampaikan oleh gurunya.
- Kesulitan mencatat informasi dari papan tulis ke dalam buku catatan mereka.
- Kesulitan mencari kata-kata dan membaca, dan seringkali harus berkedip untuk fokus pada bacaan mereka.
- Seringkali merasa tidak seimbang sehingga menabrak furnitur."

"Penyebabnya diantaranya; Dysfunctional Balance System. Bagi sebagian besar anak yang berjalan jinjit, telinga bagian dalam mereka seringkali menjadi penyebabnya. Sistem vestibular di dalam telinga merupakan pusat keseimbangan anak. Apabila tidak bekerja dengan baik, anak-anak membutuhkan serangkaian terapi motorik. Kemudian sensory Processing Issues (SPD). SPD bisa menjadi penyebab anak jalan berjinjit. Apabila anak sensitif terhadap sentuhan, mereka seringkali tidak menyentuhkan seluruh telapak kaki untuk menghindari permukaan yang tidak nyaman bagi mereka. Terkadang, mereka tidak suka apabila dipakaikan kaus kaki dan sepatu. Terapi tactile bisa membantu anak dengan kondisi ini. Dan yang terakhir "Kebiasaan". Apabila anak seringkali berjinjit, cara berjalan tersebut akan menjadi kebiasaan bagi mereka.

Pada tanggal 9 Oktober 2017 pukul 16:07 terbit lagi postingan dari Mutia Nugraheni yang berjudul "Latihan Penting Agar Si Kecil Tak Jalan Jinjit" disebutkan: "Gerakan jalan sambil berjinjit sering dilakukan anak-anak. Banyak yang mengira hal ini akan hilang dengan sendirinya dan bukan masalah yang besar. Tapi ternyata, anak yang sering berjalan jinjit berisiko besar mengalami masalah dalam hal keseimbangan. Sistem keseimbangan atau vestibular ini terbentuk dalam tubuh anak yang membawa pesan mengenai pergerakan anak pada otak. Jalan berjinjit bisa jadi indikasi adanya masalah dalam kerja sistem tersebut. Coba perhatikan kebiasaan si kecil setiap hari. Jika memang sering jalan jinjit segera konsultasi dengan dokter tumbuh kembang anak. Nantinya, latihan berikut bisa mengurangi kebiasaan jalan jinjit pada anak sebagai bagian dari terapi."

"Sandal jepit. Sandal jepit dapat mengurangi kebiasaan berjinjit pada anak. Sandal jepit didesain untuk melapisi bagian tumit hingga ujung jari, sehingga dapat meningkatkan kemampuan anak dalam berjalan normal. Berbaris, berbaris dan menginjak merupakan gerakan yang mengharuskan seluruh bagian kaki untuk menapak permukaan. Jadikan hal ini dalam bentuk sebuah permainan. Putarkan lagu untuk mengiringi gerakan. Dengan begini, anak akan melupakan kebiasaan berjinjitnya. Memanjat, berlari ke arah puncak bukit dapat merangsang otot kaki mengarah ke atas. Mereka juga bisa berguling dan berseluncur. Aktivitas ini dapat membantu mengurangi jalan berjinjit. Sepatu, berikan sepatu yang berbunyi bila diinjak. Ini akan merangsang anak untuk menapakkan seluruh permukaan kakinya. Sepatu roda juga menjadi pilihan yang baik. Mereka diharuskan untuk tidak bernjinjit agar dapat berseluncur. Menyetir mobil mainan, mengajari anak untuk menahan kaki pada posisi menyetir akan menjadi latihan yang baik. Mereka akan merasa senang dan melatih daya imajinasinya.

Sumber:
https://lifestyle.okezone.com/read/2011/04/29/196/451603/anak-jalan-jinjit-akibat-baby-walker
https://parenting.dream.co.id/ibu-dan-anak/balita-sering-jalan-jinjit-pertanda-gangguan-keseimbangan-171002p.html
https://parenting.dream.co.id/diy/latihan-penting-agar-si-kecil-tak-jalan-jinjit-1710095.html

#2
Ditulis oleh: Fitra Yadi, S.PdI
di Sarilamak
Selasa, 4 Februari 2020 H - 9 Jumadil Akhir 1441 H
Sumber: https://fitrayadi.gurusiana.id/article/2020/2/kebiasaan-anak-jalan-jinjit-akan-berubah-setelah-usia-2-tahun-4104520

Posting Komentar

0 Komentar