KELANJUTAN KISAH DIBALIK MUSIBAH JATUHNYA "MALIN" DI BUKIK POSUAK MAEK BAGIAN V

Rabu, 25 September 2019 M - 26 Muharram 1441 H
Penulis: Fitra Yadi Malin Parmato

Bukik Kosan, sabalah bukik Posuak - Maek
Lama juga sambungan tulisan ini ter-antara, tulisan sebelumnya berjudul "KISAH DIBALIK MUSIBAH JATUHNYA "SAHA" DI BUKIK POSUAK BAGIAN IV" terbit pada 18 November 2016 (hampir 3 tahun) sampai sekarang. Saya ingin melanjutkan ceritanya, namun mungkin sudah banyak yang lupa megenai detil peristiwa, nama orang dan urutan waktunya.

Satu setengah jam berjalan beberaoa anggota regu penyelamat merasa kelelahan, mereka istirahat dulu di Parontian Galak. Di seni sudah ada satu rombongan menanti yang terdiri dari anggota keluarga saya, petugas beserta masyarakat.

Ilustrasi Parontian Galak
Tandu yang digunakan untuk membawa saya itu terasa berhenti, lalu saya buka mata dan scraft penutup muka, Beberapa orang dari tim penyelamat masih memegang tali duduk mencangkung terangah-engah menundukkan kepala menahan kantuk serta lelah, mereka mengitari saya. Nampak wajah pak Zal, Pak Saip, Pak Len, Pak Don berdiri memperhatikan kondisi saya. Saya senyum menyapa mereka dengan gembira, tepi mereka nampak khawatir, wajahnya kusut menahan kantuk begitu lelah ditusuk dinginnya udara subuh.

"Bang.. bagaimana kalau kita istirahat dulu di sini, sekarang masih pukul 04.00 Wib. Setelah subuh kita lanjutkan lagi ke bawah" kata seorang petugas kepada atasannya. Setelah berkoordinasi dengan posko utama di bawah, lalu mereka memutuskan untuk istirahat dulu di lokasi itu semuanya.

Untuk kenyamanan tidur, saya meminta kesediaan seorang petugas membuka tali pengaman di kedua kaki saya biar bisa menekuk lutur tidur dengan rileks. Awalnya petugas itu agak enggan, namun kemudian ia mau juga membuka talinya setelah saya memohon-mohon. Kita semuanya istirahat, tidur di sembarang tempat, namun diantaranya masih ada yang bangun berjaga-jaga.

Mata saya terasa begitu berat kemudian tertidur dengan pulasnya. Adzan Subuh terdengar berkumandang bersahut-sahutan dari masjid-mushalla di sekitar nagari Maek. Mata masih terasa mengantuk, mau tidur lagi tapi sebelumnya saya usahakan dulu bertayammum sebisanya untuk menunaikan shalat subuh dalam keadaan terbaring di dalam tandu. Pak Zal dan Pak Saip menghampiri saya melihat keadaan, kita bercakap-cakap sebentar, kemudian saya melanjutkan tidur.

Sumber Photo: wowmenariknya.com
Sudah agak terang nampaknya, di kaki langit sudah terlihat semburat cahaya mentari pagi, saya kedip-kedipkan mata, melengong kiri dan kanan meliat keadaan sekitarnya. Terasa ngilu rasa pinggang dan punggung saya memar akibat terbentur pohon jatuh dari dinding bukit Posuak pagi kemaren. Para petugas dan orang-orang yang ada di situ sedang bercakap-cakap santai, merokok dan ada juga yang sedang minum air kemasan serta makan roti. Tidak ada obrolan khusus, mereka bicara bebas saja tanpa ada topik bahasan.

"Bagaimana Saha?" canda seorang petugas menyapa saya sambil ketawa. "Luar biasa bantuan abang-abang semuanya, segini benar abang-abang membantu saya, terimakasih banyak ya bang... saya berhutang budi kepada abang-abang semuanya, kalaulah abang-abang tidak turun tangan, entah lah bang, mungkin sampai sekarang saya masih di jurang sana, ha haha hah ahaha h" jawab saya ketawa mencandai mereka pula. Seorang petugas memberi saya segelas air kemasan dan sepotong roti untuk sarapan pagi.

Alamak... saya kebelet pipis, ari-ari terasa sakit namun malu untuk buang hajat karena suasana sudah terang. "Ah tahan sajalah dulu sampai keadaan lengang, nanti di jalan ke bawah dicari dulu tempat pipis yang seru di semak-semak" pikir saya he he h ehe.

Sekira pukul 06.30 Wib. pagi, semuanya sudah beres, petugas merapikan kembali ikatan tali pengaman di kaki saya, lalu semuanya kembali bertugas mengantarkan saya ke bawah. "Bagaimana SAHA? jalan kita lagi?" sapa seorang petugas. "Siap bang, kita lanjut jalan", jawab saya cengengesan. "Saha gembira pagi ini bang, alhamdulillah" tambah saya. "Alhamdulillah kalau begitu, yang penting Saha selamat dan gembira kembali pulang" timpal mereka sambil memasangkan scraft penutup muka ke kepala saya.

Regu Penyelamat Gabungan yang terdiri dari BPBD, BASARNAS, Kepolisian ini nampak begitu santai bergerak sambil bercanda-canda. Berjalan terus menarik tandu di tanah membawa saya terus ke bawah. Namun sanak-saudara saya yang hadir dalam penyelamatan itu nampak kurang ceria, diam saja bermuka duka. Saya tidak begitu menikmati perjalanan seperti semalam, karena sekarang suasananya siang, kebelet pipis pula, he he he he

Photo: okezone.com
Lama juga berjalan, sudah berganti-ganti pula petugas dan relawan lainnya menarik tali tandu. Susah juga saya mengalihkan perasaan menahan perih kebelet pipis. Sejak tadi tidak juga ada nampak semak atau tempat sepi untuk buang air kecil. Makin lama semak semakin rendah, mata hari semakin tinggi, orang semakin ramai juga. "Kapan pipisnya ini... hi hi hi hi hi, ah tahan sajalah dulu nanti dicari tempat bagus" gumam saya bicara sendiri.

"Bagaimana SAHA?" tanya petugas, "SAHA kebelet pipis bang," jawab saya. "Kalau begitu, pipis dulu di sini," "ah gak usah bang, malu, hari siang terang benderang, malu nampak orang, tahan sajalah dulu, nanti dicari tempat pipis di bawah" jawabku pula.

Petugas ketawa-ketawa terus mencandai saya sampai ke bawah, Pondri Noza Dt. Sutan Nan Panjang masih meledek saya pula "Jikalau nanti kita sudah sampai di bawah, tolong Saha jangan berjalan ya Saha, habis usaha kami ini jadinya, kalau ketahuan nanti Saha berjalan kena marah kami petugas ini sama komandan nantinya" katanya bergurau. "Ah ndak lah bang, Saha akan tetap tidur nanti bang, walaupun Saha bisa berdiri Saha tetap pura-pura sakit bang, tetapi kalau sudah lengang orang Saha akan makan sekenyang perut, lalu setelah makan Saha masukkan kucing ke dalam songkok nasi ya bang" jawab saya meniru-nirukan cerita Saha Lombok sedang sakit yang dikisahkan Pondri Noza Dt. Sutan Nan Panjang semalam. "Ha ha aha ha ha kita semua ketawa".

Bang Editiawarman teman saya petugas Damkar Limapuluh Kota yang juga sama-sama menyiar di stasiun radio Total FM nampak ikut serta menunggu kami di jalan, kemudian beliau meraih tali tandu dan ikut pula menariknya. Pak Doni Erizal adik mertua saya tidak lepas tali tandu dari tangan beliau sejak dari Parontian Galak tadi. Suasana penuh canda dalam perjalanan sampai ke bawah, sesekali saya buka juga scraft penutup muka menampakkan ekspresi wajah tatkala bercanda.

Petugas dan Masyarakat
Ketika itu saya benar-benar merasa happy jadinya, tidak sedikitpun merasa sedih, susah ataupun payah. Hanya sesekali terasa ngilu saja di pinggang dan punggung ketika meliukkan badan bila terasa penat. Kebelet pipis sementara tidak terasa karena lupa larut di dalam canda-tawa mengulan-ulang cerita "SAHA".

Kepada Bang Editiawarman saya ceritakan lagi kalau saya diberi gelar "SAHA" oleh Pondri Noza Dt. Sutan Nan Panjang, dan saya ceritakan juga kepadanya kisah-kisah lucu tentang tokoh Saha yang diceritakan itu. Sorak-sorai dan seringai ketawa relawan menambah meriah suasana. Pukul 09.00 Wib. pagi kita sudah tiba di Palansiangan kampung terakhir di jorong Sopan Tanah nagari Maek. 2.5 jam berjalan dari Parontian Galak tidak terasa.

Suasana ketika sampai di Palansiangan
Tetapi kemudian suasana canda-tawa seketika berubah menjadi duka tatkala mendapati sambutan melow dari masyarakat, petugas, keluarga dan pers yang berdiri di belakang garis polisi. Istriku mendekat, keluarga dan kerabat memandang dengan wajah sembab, bapak Budi Mulya Direktur Radio Total FM juga merapat. Petugas membuka tali ikatan di tandu kemudian menaikkanku ke atas troli. Aku benar-benar merasa sakit ketika itu, memang terasa sebagai korban kecelakaan, padahal beberapa menit sebelumnya kita masih bercanda-canda tertawa lepas dengan petugas Basarnas dan relawan yang membantu evakuasi.

Aku pandangi sekeliling tempat itu seperti pasar, ramai seperti mimbar MTQ kemaren. Petugas medis menaikkanku ke dalam ambulan diiringi istriku dan ibu Erika Mardiana. Istriku menangis memegang tanganku, aku berusaha menghiburnya mengatakan bahwa aku tidak apa-apa, hanya kelelahan saja. "Bagaimana dibilang tidak apa-apa, bekas luka-luka membaring di muka, tangan dan kakiku."

Bunyi Sirine menghebohkan kampung, ambulan berjalan dengan pelan. Seorang laki-laki petugas medis memegang tanganku memberi minum segelas air putih kemasan. "Sabar ya Malin, sabar.. ingat Allah, semuanya sudah ada rencananya, pasti ada hikmah di balik semuanya" katanya berulang-ulang menenangkanku.

Aku sebenarnya tidak suka diperlakukan seperti itu, tambah sedih jadinya, tambah sakit rasanya, aku ingin suasana seperti di jalan tadi, penuh canda-tawa bergurau seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Bukan di kasihani seperti ini, seakan-akan aku dalam duka, sedih dan merana.

Kantong Kemihku serasa mau pecah, ari-ariku ngilu serasa luka, sejak parak siang tadi meringis menahan pipis. Aku habiskan dulu air putih kemasan gelas itu kemudian minta izin kepada petugas untuk buang hajat. Petugas beralih tempat, memandang ke arah depan, aku dibantu istri memiringkan badan untuk pipis di bekas gelas minum kemasan. Beberapa menit berlalu namun pipis tidak juga mau keluar, mungkin karena malu sehingga cairan urin itu tertahan.

Bersambung ke:
KISAH DIBALIK MUSIBAH JATUH DI BUKIK POSUAK MAEK BAGIAN VI

Baca juga:
KISAH DIBALIK MUSIBAH JATUHNYA SAYA DARI BUKIK POSUAK MAEK I

KISAH DIBALIK MUSIBAH JATUHNYA SAYA DI BUKIK POSUAK MAEK BAGIAN II

KISAH DIBALIK MUSIBAH JATUHNYA SAYA DI BUKIK POSUAK MAEK BAGIAN III

KISAH DIBALIK MUSIBAH JATUHNYA "SAHA" DI BUKIK POSUAK BAGIAN IV

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Last Update: Rabu malam, 25 September 2019, pukul 20:22 WIb.

Posting Komentar

0 Komentar