PUISI SUMANIAK BANGKIT



PUISI SUMANIAK BANGKIT

Sahabat,
Kala ku terjeremban dalam sungai
Kulihat dirimu mengulurkan tanganmu
Kau tarik aku dari lembah yang dalam itu
Tak dapat aku bayangkan apabila aku terus berada disana

Sahabat,
Kau telah membuatku memiliki semangat
Dalam membangun rumah ini
Namun rumah yang ku bangun ini
Bukanlah semata-mata karena bangunan yang megah
Namun aku mengambil makna dari semangat berjuangmu

Sahabat,
Kini, nanti, maupun esok semangat itu akan terus melekat dalam hatiku
Kutata semuanya sampai aku merasakan makna yang indah dalam kemegahan ini

Sahabat,
Kuharap obor semangat ini takkan pernah padam dan tak akan pernah usang dimakan waktu
Serta takkan prenah lekang dimakan usia

Sahabat,
Jagalah jangan sampai obor semangat itu padam
Biarlah terus menyala
Untuk kini, esok, maupun seterusnya….

(H. Ricko Wendra)


---------------------------------------

Ku terbuai dalam alunan melodi
Ku terayun dalam hembusan nyiur kelapa
Kuterhempas dalam lambaian nirwana

Aku rindu nagariku dengan segala senyumannya
Aku cinta nagariku dengan berjuta keramahannya
Aku bangga nagariku dengan berjuta santunnya

Saat ku menapakinya kembali
Kulihat begitu banyaknya kegundahan disana
Saat itu pula aku baru tersadar
Bahwa ini ada diambang kehancuran

Dalam nuraniku berkata
Harus kutata kembali rasa yang terlah hilang itu
Entah mengapa tak ada lagi rasa itu
Yang kutahu nagari ini indah

Sampai pada akhirnya kuterbatas pada tiap kata
Sampai kuterjegah dalam dalam sikapku
Sampai kuterhanyut dalam keterbatasanku

Aku mamang memiliki begitu banyak keterbatasan
Aku memang dilahirkan dengan begitu banyak kekurangan
Namun aku mempunyai semangat untuk merubah sesuatu

Bagaimanakah aku harus bertindak untuk menerangi ini
Sementara disekelilingku tidak menyadari akan hal itu?

Kawan,
Bantulah aku untuk mempertahankan nagari ini
Janganlah keangkuhan berkecamuk dalam hatimu
Bangunlah kawan, waktu tidak akan menantimu
Justru kitalah yang menanti waktu

Kawan,
Gunakanlah kesempatan yang ada didepan mata
Janganlah kau sia-siakan itu karena keangkuhan yang melanda
Singkirkanlah keegoanmu timbulkanlah semangatmu
Kita bangun kembali kebersamaan kita
Sampai titik peluh yang terakhir

Irwan Usman (IU)

---------------------------------------


Kabut putih telah turun kepangkuan bumi
Terangkai dengan satu kata indah
Dikala aku termenung pada landaian tanah ini
Aku duduk sambil meniupkan serulingku

Kuterpukau dengan keindahan lukisan pagi ini
Serasa aku terdiam dalam satu sudut ruangan
Kulihat tanah kelahiranku yang begitu damai
Aku merindukan kehangatan pagi ini

Kulihat kelindan awan berarak membuka tabir surya
Matahari terangi pagi diam seribu bahasa
Meniti indahnya datangnya pagi

Fajar yang berkulau dating membuka hari
Sinarmu memberi sepercik harapan yang bersahaja
Serangkai harapan telah aku titipkan dalam panguan ibu pertiwi
Aku nenatap semua dengan penuh harapan

Akan ku bawa kemanakah sepenggal perjalanan ini?
Aku hanya meniti dan menyusuri tiap sudut
Tetapi aku menitipkan sisa perjalan ini
Sampai batas ketidak mampuanku tiba

Pergunakanlah waktumu untuk merangkai semua menjadi
Bangunlah kembali tiap sudut yang kutitipkan
Rangkailah semua menjadi sebuah rangkaian bunga
Agar harum dan indah dilihat pada akhirnya

Janganlah kau biarkan kebodohan terus mengintai
Dengarkanlah nyanyian pagi ini.
Agar kau paham dan mengerti
Betap besar rasa memilikiku pada tanah kelahiranku ini.

(Risfa Rizal)

---------------------------------------


Gerbang yang kami bangun
Yang megah berdiri
Yang bersinar diwaktu malam

Gerbang yang kami bangun
Adalah awal kebangkitan
Kokoh bukan karena besi dan beton
Indah bukan karena warna batu alam

Gerbang yang kami bangun
Adalah bukti kecintaan
Kokoh karena semangat kebangkitan
Indah karena lahir dari ketulusan

Semoga semangat kami menjalar di urat nadimu
Semoga ketulusan kami diterima dihatimu, saudaraku…

(HD. ER. HM (IKS)

---------------------------------------


Anakku,
Dikala usiaku yang telah senja ini
Aku meniti dengan penuh kelelahan dan tantangan
Aku menapaki tapal batas tanpa dengan lentera yang meneranginya

Anakku,
Sungguh sangat berat perjalanan hidup ini
Kuraih dengan peluh yang mengaliri tubuhku
Ku gapai dengan segala keterbatasanku

Anakku,
Kutanya kepadamu
Haruskah kau menghancurkan yang telah ku bangun ini?
Tegakah kau menyia-nyiakan segala upaya ku ini?

Anakku,
Perjalananmu masih sangat panjang
Janganlah kau sia-siakan hidupmu
Dengan berbagai hal yang kan menghancurkanmu

Anakku,
Begitu banyak rintangan yang menantimu di depan
Janganlah sampai kau terjebak kedalam lubang hitam
Yang akan menyengsarakanmu kelak

Anakku,
Usiaku sudah tak mungkin lagi meneruskan ini
Kutitipkan segalanya padamu

Anakku,
Berikan yang terbaik kepada dunia
Dan yang terbaik akan kamu dapatkan

(Ir. Januar Muin / Letkol Purn. Muslim Djamil (Penasehat IKS)

---------------------------------------


Bulan meniti malam nan gelap
Namun cahaya yang redup mampu membuatnya terang
Setiap bentuk cahaya yang tersirat aku mampu menangkapnya
Desiran angina meniupkan kedamaian dalam hidupku

Setetes embun di daun lamban bergulir
Ketika hatiku diayun kebimbangan
Aku kembali memeluk kedalam dekapan pangkuan ibunda

Bunda,
Betapa besar rasa cintamu yang kau persembahkan kepadaku
Kau tuangkan segala cinta untukku
Tak pernah kau padamkan cinta itu untukku

Bunda,
Aku merasakan kedamaian yang abadi dalam hatiku
Sampai pada akhirnya aku terlena pada dekapan sang hawa
Dan ku telah melupakanmu bahkan ku telah mengabaikanmu

Bunda,
Maafkan anakmu yang telah diselubungi dosa
Aku tak dapat membalas segala cinta dan sayangmu
Aku terlalu terbuai dalam kegalauan
Aku tau kau kecewa kepadaku
Namun aku berusaha untukku memperbaiki semuanya

Bunda,
Senyumanmu yang arif dan ramah maupun menggugah nuraniku
Tanganmu yang hangat mampu mendekapku
Bahasamu yang halus mampu meneduhkan jiwaku dalam kehangatan
Walau ku tahu hatimu tersakiti olehku

Bunda,
Cintamu tiada batas
Tapi mengapa aku begitu tega menyakitimu
Kasihmu tiada batasnya yang telah kau berikan kepadaku

Bunda,
Ku tahu surga ada pada telapakmu
Rangkuhlah aku
Bimbinglah aku
Agar aku tidak semakin terseret semakin dalam
Terikamakasih bunda
Cintamu tiadatara

(Ir. Zainul Ikhwan)


Posting Komentar

0 Komentar