SAFARI RAMADHAN FMPN CKL DI KAPALO BARINGIN

Kamis malam tanggal 20 September 2007 tim safari ramadan Forum Masyarakat Peduli Nagari Canduang Koto Laweh (FMPN CKL) yang dipimpin oleh Efrizen, M.Pd Katumangguangan Nan Sabatang (Mangguang) melawat ke Mesjid Jami’ Kapalo Baringin jorong XII Kampuang Nagari Canduang Koto Laweh, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam. Rombongan yang terdiri dari 6 orang ini (Mangguang, Payuang, Basa, Dafit, Nining dan Sati) sampai dilokasi mesjid tidak serempak, karena memang berangkat sendiri-sendiri.
Jama’ah Mesjid lumayan ramai setimbang dengan jumlah warga. Mulai dari anak-anak sampai orang tua datang ke memadati Mesjid. Hampir tidak ada pemuda-pemuda nongkrong diluar mesjid. Beda halnya dengan mesjid-mesjid lain di Canduang Koto Laweh, banyak pemuda dan remaja main diluar mesjid sekedar ngorbrol dan menghisap batangan rokok. Masyarakat sekitar mesjid terkesan antusias melaksanakan ibadah. Yang paling hebat adalah penampilan muhaddarah santri Didikan Subuh, sebelum ustaz menyampaikan pengajian. Hal ini sudah lazim di terapkan oleh ustaz Irwan (pakieh) sejak beberapa tahun lalu kepada santrinya untuk melatih mereka memberanikan diri tanpil didepan orang banyak. Di Mesjid ini memang sudah lazim, tetapi di mesjid lain belum, sebaiknya mereka mencontoh kepadanya.
Dalam pidatonya Mangguang menyampaikan:
Forum ini didirikan dan diresmikan oleh Wali Nagari Canduang Koto Laweh pada hari Rabu malam tanggal 8 Agustus 2007 di SDN Pakan Akad yang dihadiri oleh sekitar 40 orang utusan berbagai jorong. Forum ini adalah perpanjangan tangan dari masyarakat Canduang Koto Laweh untuk memecahkan persoalan nagari, juga sebagai kontrol sosial bagi pemerintahan nagari berikutnya. Kami bukanlah organisasi politik, atau tim sukses seorang yang akan mencalonkan diri menjadi wali nagari. Kami netral, berpihak ke masyarakat.
Kami tidak punya sesuatu yang akan ditinggalkan di mesjid ini, tetapi hanya AD/ART FMPN dan Daftar Niniak mamak 32 Hindu dan Juaro XII, mudah-mudahan bapak-bapak Niniak-mamak bersedia mengoreksinya. Jikok cumpiang tolong dibilai jikok kurang tolong ditukuak. Moto kami adolah: Mancari Jajak nan Hilang Manuju Mahligai”.
Pada sesi berikutnya Fitrayadi (Dafit) diminta memberikan ceramah agama. Dengan sedikit gelagapan (karena tidak ada persiapan dan tidak mengira sama sekali) dia berusaha juga naik ke membar menyapaikan apa yang teringat, dalam pidatonya ia menyampaikan:
”Mancari Jajak nan Hilang Manuju Mahligai, itulah yang kita cita-citakan bersama. Kita sudah lama sia-sia sejak diberlakukannya undang-undang pemerintahan desa, maka sejak itu berangsur-angsur pemahaman tentang adat dan nagari itu pudar dari ingatan generasi berikutnya. Kalau mancari jajak nan hilang, berarti mencari pusako yang sudah dilupakan tadi, manuju mahligai berarti menuju kepada kebahagiaan, kedamain, kemegahan, kejayaan, sebagaimana jayanya kita dulu ketika banagari.
Alhamdulillah dalam era reformasi ini masyarakat sudah berhasil membuat perubahan-perubahan kepada kamajuan walaupun disana-sini masih banyak perobahan ke arah negatif. Misalnya saja anak sekolah ”bapak kami gaji ni pak, makanya bapak jangan berlagu...... sekarang sudah zaman demokrasi pak!!!” begitu tidak sopannya mereka kepada guru sampai-sampai guru mereka dakwa. Dirumah mereka sering mendakwa orang tua. Demikianlah sekelumit contoh perubahan yang tidak baik, sekarang mari kita buat yang baik dan meninggalkan yang buruk”.
Setelah shalat tarawih, masing-masing peserta safari ramadhan duduk dan berdiskusi dengan jama’ah mesjid. Inilah salah satu diskusi menarik:
Zul Efendi : Masyarakat meminta angkutan sekolah ke pada PO Fajar kalimatang, mulai dari labuang pakan akad terus ke koto ambalau, lasi dan terus ke Bukittinggi.
Mangguang : Kemaren kan ada PO Agam Tuo, tapi angek-angek ciek ayam, sehingga sekarang banyak anak-anak sekolah yang mengeluh.
Zul Efendi : Sebenarnya sudah ada kerjasama tertulis antara kepala sekolah SMA Lasi dengan PO Fajar kalimatang, tapi kok sampai sekarang belum terealisasi juga ya..? Saya sendiri sudah pernah bertukar fikiran dengan PO Fajar Kalimatang tapi saya tidak tahu sampai sekarang belum ada juga hasilnya.
Sati : Sebetulnya jalan ini adalah Len PO Pelita Pendi...
Mangguang : Mungkin habis lebaran bisa kita jejaki bersama dan kita bicara hal ini dengan masing-maing PO.....
Payuang : Saya pikir, kalau jalan kita ini dibuka untuk jalur ke Padang Luar, pastilah sangat menguntungkan masyarakat, sebab hasil tani mereka bisa mudah di bawa ke pasar sayut itu.
Irwan : Betul kata Pendi tadi, hendaknya sekarang jangan terjadi lagi kekerasan-kekerasan sebagaimana dulu, karena waktu itu mereka memanggakkan Ayamgadang, tetapi sekarang kita memanggakkan paretongan lah hendaknya.
Payuang : Habis Lebaran, kita bisa juga membicarakan ini dengan urang-urang rantau.
Basa Ad : Mana tau nanti mereka ngasih dana untuk membeli mobil khusus untuk sekolah.
Demikianlah obralan-obralan terjadi spontan membuktikan antusias masyarakat dengan FMPN. Biasanya suatu masalah akan nampak ujung pangkalnya dan mudah menentukan aksi bila dimulai dengan obrolan-obrolan seperti ini, makanya bapak-bapak pejabat, pemerintah, anggota dewan jalan-jalanlah maota-ota jo masyarakat...... ijan rapek di hotel ka dihotel sajo.... disinan indak ado masalah tu do.. nan bamasalah tu kami..... (Fitrayadi).

Posting Komentar

0 Komentar