SALUANG SEMALAM SUNTUK MERIAHKAN KEPULANGAN PERANTAU

Balai Sati - 04/09/2011 |

Dalam rangka memeriahkan Idul Fitri juga, sebagai ekspresi dari kegembiraan hati. Lain orang lain selera, lain pemuda lain pula yang tua. Yang muda lebih yang menyukai orgen tunggal, yang tua umumnya menyukai Saluang Klasik sebagaimana yang digelar di Balai Sati (Komplek pemerintahan nagari Canduang Koto Laweh) pada Rabu malam (31/08). Acara pementasan kesenian saluang klasik itu digelar atas permintaan perantau sebagai bentuk apresiasi terhadap khazanah budaya lokal.

Nampak hadir di acara ini wali nagari Canduag Koto Laweh Thamrin HK. Dt. Pengeran, S.Sos. Dan diramaikan pula oleh para perantau, anak nagari dan para pencandu gurau saluang dari nagari-nagari tetangga seperti Lasi, Baso, Kamang bahkan dari Payakumbuh. Palutok Talang Sarueh adalah Katik Batuah putra Canduang dari jorong Canduang Guguak Katiak. Anak dendang adalah Wit, Ria dan Meri dari Payakumbuh. Sedangkan tukang hoyak adalah Iryanto Jambak dari Perantau Jakarta dan Inyiak Uban dari Gaduik.

Sorak-sorai penonton yang saling berbalas pantun sindiran menghangatkan suasana sampai pukul 03.30 Wib. Sistem pemesanan lagu adalah dengan menuliskan kata-kata atau pantun di secarik kertas kemudian diserahkan kepada tukang hoyak dengan selembar uang kertas yang tidak ditetapkan jumlah tarifnya. Biaya acara ini diambilkan dari uang hasil pemesanan lagu tersebut, demikian ungkap Lano, Wali jorong Canduang Guguak Katiak.

Iryanto Syukur seorang perantau Canduang Jakarta seorang pemerhati dan pelaku budaya Minangkabau di perantauan dari jorong III Suku mengatakan bahwa yang mendorong orang-orang rantau pulang kampung salah satunya adalah keinginan untuk melihat langsung pementasan seni asli Minangkabau seperti saluang, randai, silat tradisi, dan lain-lainnya sebagaimana yang direncanakan beberapa hari lalu. Tetapi sayangnya yang terealisasi hanya saluang dan silat tradisi saja.

Sebagai anak nagari yang peduli dengan budaya Minangkabau, Iryanto Syukur yang lebih dikenal dengan Iryanto Jambak ini memaparkan bahwa kesenian Saluang klasik masih sampai sekarang marsih diminati masyarkat. Masih diminati di kampung dan laku bila dipentaskan di kota seperti Jakarta. Pengalaman pada siaran-siaran saya di radio Pusako Minang Jakarta, 30 % permirsa adalah orang diluar Minang. Itu pertanda bahwa kesenian Minang juga diminati oleh orang luar yang notabene tidak mengerti dengan bahasa dan budaya Minang.

Posting Komentar

0 Komentar