MAKNA PERBEDAAN

Sidang Sebuah Balai - Rabu/24/08/2011 |

Dua ribuan umat muslim shalat Idul Fitri penuh sesak di Masjid Jamik Sidang Sebuah Balai jorong Lubuak Aua kenagarian Canduang Koto Laweh pada pagi Rabu (24/08). Jama'ah Melimpah ke halaman, bahkan Surau Panjang yang terletak di samping Masjid juga diisi oleh jama'ah. Kendaraan roda dua dan roda empat nampak berjejeran parkir di jalan depan gerbang masjid. Daya Tampung Masjid untuk lantai satu dan dua hanya seribu orang. Nampak Jama'ah berdesak-desakan tidak mendapatkan tempat shalat yang nyaman.

Demikian juga dengan ketua IKCK JABODETABEK Kolonel Laut Muharam Ibrahim hanya dapat tempat di halaman masjid. Dan banyak lagi jama'ah lainnya yang tidak mendapat tempat. Mereka berdiri diluar sampai dikumandangkan takbiratul Ihram kemudian masuk ke shaf-shaf yang masih kosong untuk melaksanakan shalat Idul Fitri. Beruntung yang membawa sajadah dari rumah, karena mereka bisa menggelarnya di halaman masjid yang sudah dipasang Rubik Heksagram.

Ustazd Tasman SPd, Guru MAN Batumandi dari Kamang yang bertindak sebagai khatib menyampaikan bahwa: Sekarang orang yang telah melaksanakan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan ihtisaaban, telah ghufira lahu (telah mendapat keampunan dari Allah Swt.). Sekarang tugas kita adalah memeliharanya. Qad aflaha man tazdkkaaahaaa (Sungguh beruntunglah orang yang senantiasa membersihkan diri). Jangan kita kotori juga jiwa kita. Umpama orang yang telah mandi bersih dan memakai harum-haruman, kemudian kembali berkubang masuk kotoran. Jangan sampai wajah yang berseri-seri ini kembali bersedih dan berkabut bergelimang dosa. Setelah melaksanakan ibadah mahdhah, maka kita juga disuruh oleh Allah dengan ibadah ghairu mahdah berupa ibadah sosial seperti zakat. Di hari gembira ini tidak ada diantara kita ini yang sedih karena semua kita senang, bahkan ini adalah hari diharamkan oleh Allah kita melaksanakan puasa. Yang aghniya' bahagia, yang fuqaraa' juga gembira. Namun demikian perbedaan itu pasti ada, al-mukmin kal bunyaan (orang mukmin itu seperti bangunan), tidak ada yang sama, mereka masing-masing boleh berbeda. Dengan perbedaan bentuknya, mereka bersahabat karib, tidak ada bermusuhan dan bersakit hati, maka kokohlah bangunan rumah jadinya. Demikian pula lah kita hendaknya. Jangan jadikan perbedaan hari raya sebagai pemisah antara kita.

Posting Komentar

0 Komentar